Saturday, 18 March 2017

Hilang

Kini kurasa sepi hari-hariku.
Tiada lagi ku melihat senyum indah.
Yang selalu melebar diwajahmu.
Yang selalu membuatmu sumringah.

Ku jalani waktu demi waktu.
Hari silih berganti.
Detik terus berdenting.
Jantung tetap berpacu.
Tetapi kini kurasa seperti ada yang hilang.

Bagaikan anak yang merindukan ibunya.
Bagaikan seorang pejuang yang merindukan rumahnya.
Bagaikan seseorang yang hanya membutuhkan tempat tuk berteduh dan mengadu keluh kesah.

Tak lagi ku dengar tawa lepasmu.
Kini semuanya terasa sunyi sepi.
Ku fikir ini khayalan semu.
Tapi nyatanya itulah yang terjadi.

Memang sakit yang ku rasa.
Tetapi tak nampak sakit itu.
Karena yang diserang membabi buta adalah rohaniku.
Bukan jasmaniku.

Dan bilamana kata adalah doa.
Maka ribuan kata pun terucap.
Bila tak kunjung terkabulkan.
Setidaknya rindu ini sudah tersampaikan.

Karena ku tak mampu menahan lagi.
Beban yang sudah berperang dibenak.
Jika Tuhan sudah menghendaki.
Mungkin kita akan bertemu kelak.

Tak akan tahu akan bertemu kembali di kehidupan yang fana.
Atau bertemu dilabirin mimpi.
Aku bagaikan pesawat yang telah kau rakit.
Namun kau hempaskan begitu mudahnya.

Seribu langkah guntai pun telah kulewati.
Bahkan dibenak pernah terfikir tuk menyayat hati dengan belati.
Tetapi telah kusadari,
Hidup haruslah dijalani kembali.

Ada atau tanpa dirimu.
Terima kasih sudah hadir dihidupku.
Terima kasih sudah menghancurkanku.

No comments:

Post a Comment