Friday, 28 July 2017

Pulang

Perjalanan pencarian jati diri ini teruslah berlanjut.
Lika liku kehidupan terus kuhadapi.
Tak boleh mengeluh sedikit pun tuk menghadapi level yang lebih lanjut.
Karena ku percayai akan kebahagiaan yang kan datang menanti

Suatu hari ku bertemu suatu tempat yang pernah ku jumpai
Tempat yang mampu teduhkan hati
Hangatkan jiwa ini
Tempat yang sesungguhnya tak ingin ku tinggali

Sesal adalah hal terburuk yang pernah terjadi
Namun apadaya ketika emosi sudah tak tertahan lagi
Tetapi kini sudah kutemukan lagi
Harta karun tak ternilai yang pernah ku temui

Takkan kutinggalkan lagi tempat terhangat yang pernah ku singgahi
Kelak jika ku pergi nanti
Ku telah tau dimana tempat ku akan pulang
Telah mengerti dimana ku akan bersandar

Tempat itu adalah rumah
Tuk mencurahkan segala dahaga
Keluh kesah
Dan juga canda tawa

Monday, 10 April 2017

Samar

Entah sudah berapa pekan ku lalui
Terbunuh Sepi
Hampa dan Sunyi
Berulang kali lewati kejamnya hari

Tapi kini, ku beranikan lagi kaki ini tuk melangkah
Tuk jalani hari seperti sedia kala
Setelah hilangnya mimpi indah
Dan malah berujung duka

Lihatlah disekitarmu
Nikmatilah deru angin yang seru
Yang membawamu kembali jalani hari
Yang membuatmu semangat lagi gapai yang kau ingin

Ku sadari diri ini objek
Kelinci percobaan dari suka dan duka
Tergantung bagaimana bisa kau melawannya
Atau malah menikmati alurnya

Ketika diri ini sedang bersiap kembali
Membangun kembali pondasi yang telah runtuh
Seketika halang rintang datang menghalangi
Menciutkan kembali jiwa yang telah lama mati

Kau memberikan nafas baru
Kau membangunkanku dari koma ku
Kau bagaikan hujan basahi hati yang gersang
Namun ku tak boleh cepat berekspetasi

Tubuh ini masih prematur
Masih mudah terombang ambing
Masih mudah diterpa badai
Bagaikan bunga akan layu sebelum tumbuh

Kini hanyalah waktu yang akan menjawab
Akankah bermetamorfosis menjadi bahagia
Atau tenggelam di senja kehidupan

Saturday, 18 March 2017

Hilang

Kini kurasa sepi hari-hariku.
Tiada lagi ku melihat senyum indah.
Yang selalu melebar diwajahmu.
Yang selalu membuatmu sumringah.

Ku jalani waktu demi waktu.
Hari silih berganti.
Detik terus berdenting.
Jantung tetap berpacu.
Tetapi kini kurasa seperti ada yang hilang.

Bagaikan anak yang merindukan ibunya.
Bagaikan seorang pejuang yang merindukan rumahnya.
Bagaikan seseorang yang hanya membutuhkan tempat tuk berteduh dan mengadu keluh kesah.

Tak lagi ku dengar tawa lepasmu.
Kini semuanya terasa sunyi sepi.
Ku fikir ini khayalan semu.
Tapi nyatanya itulah yang terjadi.

Memang sakit yang ku rasa.
Tetapi tak nampak sakit itu.
Karena yang diserang membabi buta adalah rohaniku.
Bukan jasmaniku.

Dan bilamana kata adalah doa.
Maka ribuan kata pun terucap.
Bila tak kunjung terkabulkan.
Setidaknya rindu ini sudah tersampaikan.

Karena ku tak mampu menahan lagi.
Beban yang sudah berperang dibenak.
Jika Tuhan sudah menghendaki.
Mungkin kita akan bertemu kelak.

Tak akan tahu akan bertemu kembali di kehidupan yang fana.
Atau bertemu dilabirin mimpi.
Aku bagaikan pesawat yang telah kau rakit.
Namun kau hempaskan begitu mudahnya.

Seribu langkah guntai pun telah kulewati.
Bahkan dibenak pernah terfikir tuk menyayat hati dengan belati.
Tetapi telah kusadari,
Hidup haruslah dijalani kembali.

Ada atau tanpa dirimu.
Terima kasih sudah hadir dihidupku.
Terima kasih sudah menghancurkanku.